Instagram icon Whatsapp icon Facebook icon Linkedin icon
Insight

Belajar Bisnis dari Kebangkrutan Nokia, Apa Penyebabnya?

by Lakuuu Team 17 August 2021

belajar-bisnis-dari-kebangkrutan-nokia-apa-penyebabnya
Nokia telah menjadi pemimpin pasar untuk telepon seluler dengan jangkauan luas dan pelanggan yang besar. Namun Nokia melakukan kesalahan besar karena sangat rasis dan merasa puas dengan pencapaian. Sehingga untuk para pemula wajib belajar bisnis dari kebangkrutan Nokia ini. 

Pasalnya, semakin berkembangnya teknologi saat ini membuat persaingan di pasar semakin ketat. Banyak perusahan yang melakukan inovasi radikal dan menyematkan teknologi canggih pada produk-produk barunya. Berbeda halnya dengan Nokia yang telah kehilangan pangsa pasarnya.

Padahal OS Symbian dari Nokia dahulu menjadi tulang punggung dari seluruh kontribusi besar. Para pengguna dapat merasakan berbagai kemudahan yang lebih tinggi. Berkat GUI yang simpel, Sobat Lakuuu dapat menikmati berbagai fiturnya sehingga Nokia menguasai pangsa pasar menengah dan bawah dalam tempo lama. 

Memulai Belajar Bisnis dari Kebangkrutan Nokia

Sobat Lakuuu yang akan memulai bisnis di bidang mobile teknologi tentu sudah mengenal brand Nokia. Akan tetapi kini di pasaran namanya sudah tidak terdengar lagi. 

Nokia telah di masa lalu telah meraih kesuksesan, namun terlena untuk melakukan inovasi. Sehingga di masa yang semakin modern, Nokia telah terlambat untuk menyadarinya. 

Kejayaan Nokia tidak berlangsung lama. Karena seiring perkembangan zaman para pesaing baru telah bermunculan. Penjualan pun menurun drastis, sehingga Sobat Lakuu wajib belajar bisnis dari kebangkrutan Nokia ini. 

Merk yang sudah berdiri sejak 1865 tersebut telah merumahkan banyak karyawannya dan mengalami kebangkrutan. Pasalnya pada dekade kedua tahun milenium Android mulai menjajah pasar. 

Kurang Inovasi

Pada tahun 2011, ponsel Windows Nokia meluncur namun tidak mempunyai beberapa teknologi yang mendorong penjualan. Kemudian hadir  Nokia Lumia, akan tetapi desainnya kurang menarik. Sementera brand lain setiap tahunnya hampir memdifikasi dari peluncuran sebelumnya.

Nokia hampir memimpin pasar selama satu dekade, namun untuk perencanaan masa depan pada produk kurang memuaskan. Pasalnya ponsel sentuh Nokia untuk pertamanya menggunakan E-series. 

Nokia meluncurkan smartphone pertamanya dengan seri Symbian 60 tahun 2002. Belajar bisnis dari kebangkrutan Nokia ini untuk mengantisipasi, memahami, dan mengatur produk menghadapi perubahan zaman. 

Kemudian saran dan masukan sangat penting untuk menilai kinerja sendiri secara subjektif dan efektif. Karena jika hanya memberikan penilainn sendiri ama akan mengambil sisi positifnya saja, bahkan membiarkan yang negatif serta tidak menindaklanjuti. 

Untuk mengembangkan sebuah usaha membutuhkan kritik yang membangun. Sehingga akan menjadi lebih baik dan mendapatkan posisi paling depan di masa mendatang. 

Bahkan keberadaan Nokia tidak bisa bertahan lagi di pasaran meskipun menggunakan strategi investasi dari para investor. Untuk itu apabila belajar bisnis dari kebangkrutan Nokia ini, Sobat Lakuu harus selalu membuat inovasi pada jasa atau produk agar mendapat tempat di hati konsumen dan di pasaran. 

Perubahan Kemitraan

Perusahaan ini menjual seluruh divisi ponsel di tempat pertama, sebelum akhirnya datang dengan produk tabletnya. Stephen Elop merupakan kepala Divisi Bisnis Microsoft, dia mempunyai tanggung jawab dalam pengawasan proyek. Kemudian dia menjadi CEO Nokia tahun 2010. 

Nokia yang telah lama bergantung pada Symbian akhirnya berubah kemitraan dengan Microsoft. Namun, rupanya pergeseran ke Windows tersebut justru memperlambat Nokia.

Ruang sistem operasi hampir ditempati oleh iOS dan Android. Dengan demikian, Windows tidak banyak berperan. 

Melupakan Konsumen

Belajar bisnis dari kebangkrutan Nokia yang menjual divisi perangkat mobile ke Microsoft. Sehingga menjadi divisi Microsoft Mobile. 

Lumia 800 yang menjadi Nokia Windows Phone pertama rilis November 2011. Penjualannya sangat buruk dan menyebabkan kebangkrutan pada pertengahan 2012. Kemudian menghadirkan kembali Lumia 920 untuk meningkatkan pangsa pasar perusahaan, namun tidak banyak memberi keuntungan. 

Nokia tidak fokus terhadap compatibility aplikasi. Justru, merancang sebuah ponsel yang tidak bisa untuk memainkan game. Belajar bisnis dari kebangkrutan Nokia ini berarti harus selalu memperbarui produk atau jasa.

Alhasil para konsumen kabur karena tidak mendapatkan smartphone yang user friendly dan compatible. Pasalnya mereka membutuhkan banyak aplikasi untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Apalagi ditambah kondisi Nokia yang kekurangan tenaga ahli dalam hal software. 

Perizinan Bermasalah

Nama Nokia ternyata milik Finlandia sebagai produsen utama dan Microsoft ternyata tidak membelinya. Jadi, Nokia hanya dapat dipakai untuk merek dari feature phone dalam jangka waktu 10 tahun. Pemakaian tersebut masih dengan perjanjian dari kedua belah pihak. 

Terhitung hingga 2016, Nokia tidak mendapat izin untuk menjual ponsel cerdas dengan mereknya sendiri. Namun hal tersebut tidak menghentikan langkah Nokia untuk pengerjaan produk terbarunya, yakni tablet Nokia N1. Pasalnya pada November 2014 Nokia mulai melisensikan mereknya ke produsen lain. 

Pada saat yang sama,  HMD Global menjadi satu-satunya lisensi merek Nokia. Perangkat  yang diproduksi oleh HMD ini bukan seutuhnya ponsel dari Nokia.  Salah satu bagian dari Microsoft adalah divisi perangkat seluler lama dari Nokia, meskipun  akhir-akhir ini telah menghentikan pembuatan Lumia. 

Belajar bisnis dari kebangkrutan Nokia akan membantu Sobat Lakuuu apabila akan memulai usaha baru. Banyak faktor yang mempengaruhi kebangkrutannya. Misalnya saja keangkuhan dari pemilik yang menilai jika Nokia telah berkuasa selama puluhan tahun, bahkan  tidak menutup kemungkinan terdapat pihak lain yang menyaingi.